Pages

Kamis, 24 Januari 2013

Drama bertema ‘Etika Bertetangga’



Tokoh perempuan      :
1.       Riri (remaja, anak bu Warseno dan pak Warseno) --> 19 tahun
2.       Lalin (remaja) --> 20 tahun
3.      Rusitan (remaja) --> 20 tahun
4.      Bu Yani (tetangga) --> 31 tahun
5.      Bu Husni (tetangga) --> 33 tahun
6.      Bu Jo (tukang sayur) --> 37 tahun
7.      Bu Warseno --> 32 tahun
8.      Dewazci (remaja) --> 19 tahun
9.      Remasti (remaja) -->18 tahun
1.   Kina (remaja) --> 20 tahun

Tokoh laki-laki                               :
1.       Mas Doni (remaja) --> 20 tahun
2.       Pak Warseno --> 39 tahun
3.      Pak RT --> 43 tahun
                                                               
Di perumahan Jaya Indah gang lucu sekali, terdapat suami istri yang sering bertengkar, karena suaminya sering pulang malam dan jarang memberi uang bulanan kepada istrinya dan istrinya selalu menuntut untuk diberi nafkah, setiap hari dia hanya di rumah melihat TV, kalaupun dia keluar rumah, para tetangga tidak mau menyapanya, karena wajahnya selalu seperti marah dan kalau berbicara sangat judes. Karena sifat kedua orang tuanya itu, anak mereka jadi kurang perhatian, perilakunya pun tak seperti anak remaja umumnya.

ADEGAN 1
Setiap sebulan sekali minggu kedua, di perumahan para remaja mengadakan perkumpulan karang taruna. Malam itu, acaranya diadakan di rumah Suri. Dan riri datang ke acara karang taruna itu dengan perilaku dan sikap yang tidak sopan, jadi memancing remaja karang taruna yang lainnya untuk menggunjingkannya.

Riri: Assalamuallaikum. Hei bro, udah dari tadi  ya acaranya, sory y ague telat. (dengan suara keras dan tidak merasa bersalah)

Mas Doni: Eh, iya dek Riri. Masuk aja gakpapa.

Karena Riri datang dengan pakaian kurang sopan dan telat, para pemudi menggunjingkannya dengan suara yang cukup keras.

Rusitan: Eh, lihat tuh Riri! Udah datengnya telat, bajunya gak sopan lagi. Gak tau malu banget tuh anak.

Lalin: He’em, bener. Lihat tuh, dia juga bawa rokok!

Rusitan: Iiiih, harusnya dia gak usah diajak karang taruna. Nanti kalau pada dipengaruhin dia gimana.

Lalin: Iya, bener banget. Pokoknya kita jangan deket-deket sama dia!

Rusitan: Iya! Aku jadi males ikut karang taruna kalau ada dia.

Riri yang mendengar pembicaraan Lalin dan Rusitan jadi emosi.

Riri: Oooh.. gitu ya! Kalau kalian gak suka aku ikut karang taruna, OKE! Aku gak akan ikut lagi. (sambil berdiri)

Mas Doni: Eh, dek Riri mau kemana? Acaranya kan belum selesai.

Riri: BIARIN! (dengan suara keras dan marah)

Mas Doni hanya diam tak tahu harus berbuat apa, karena Riri sudah mengendarai motornya.

ADEGAN 2
Para orang tua sedang bebelanja di tukang sayur dan  mereka membicarakan tentang anaknya bu Warseno yaitu Riri.

Bu Yani: Eh jeng, tahu gak tadi malem itu anak saya cerita kalau anaknya bu Warseno itu datang ke karang taruna gak sopan banget masak ke karang taruna pakai kaos gombrong dan celana pendek rambutnya juga amburadul, mulutnya juga bau rokok.

Bu Husni: Eh kok bisa ya jeng? Apa karena orang tuanya sering berantem, jadi si Riri itu jadi bersandal perumahan. Eh bukan bukan, maksud saya be..ran..dal perumahan.

Bu Jo: Walah bu, anak juaman sekarang itu lak emang begitu kalau ada masalah. Gak bisa berpikir positip think-think.

Bu Husni: Bukan positip think-think bu JUOKO tapi positif thinking!

Bu Jo: Lha saya itu maksudnya juga mau ngomong begitu, tapi lidah saya malah kepleset.

Bu Yani: Wealah-wealah, yasudah. Ini bu Jo, saya ambil sayur kangkung sama bandeng prestonya satu. Jadi totalnya berapa?

Bu Jo: Kangkungnya Rp 3000 sama bandengnya Rp 8000.

Bu Yani: Ini uangnya, kembaliannya besok saja ya bu, keburu pipis saya. Monggo bu Husni, monggo bu Jo!

Bu Husni, bu Jo: Nggeh bu monggo-monggo.

Setelah bu Yuni pulang, bu Warseno datang ke warung bu Jo.

Bu Warseno: Bu, sayur bayamnya seunting, sama tempe gembusnya Rp 2000.

Bu Jo: Oh, iya ini bu, totalnya Rp 5000. (melihat bu Warseno sambil sedikit sinis)

Bu Warseno: Makasih. (super jutek dan sinis)

Bu Husni: Makanya sifat sama perilaku anaknya seperti itu, lha wong sama kayak ibunya. (Ckckckckckckck heran). Ya sudah bu Jo saya tak pulang dulu, ini cabenya ngutang dulu ya.

Bu Jo: Wealah, iya deh bu. Jangan lupa ya bu, besok DIBAYAR!

Tak sengaja bu Warseno mendengar pembicaraan bu Husni, karena memang dia belum begitu jauh dari warungnya bu Jo. Hatinya terasa sakit mendengar anaknya digunjingkan.

ADEGAN 3
Sampai di rumah, bu Warseno memarahi Riri tapi Ririnya cuek saja. Pak Warseno yang mendengar bu Warseno memarahi anaknya langsung membela Riri.

Bu Warseno: Riri, apa yang kamu lakukan tadi malam waktu di kumpulan karang taruna? Ha? Kenapa kamu sampai di gunjingkan oleh tetangga? (sambil berteriak)

Riri: Riri gak melakukan apa-apa tadi malam. Riri Cuma datang ke kumpulan karang taruna. Emang apa yang salah ?  (bicara dengan santai dan duduk di kursi)

Bu Warseno: Kalau kamu gak melakukan apa-apa kenapa tetangga pada menggunjingkan kamu? Ha? Jawab jujur !

Pak Warseno: sudah-sudah! Ibu itu jangan hanya memarahi Riri! (dengan sabar)

Bu Warseno: Apa bapak bilang? Ibu ini menasehati dia, bukan memarahi. Kalau dia berbuat onar seperti dulu lagi mabuk-mabukan di sekolah, apa itu gak bikin dobel malu keluarga? Bapak sendiri bisa mendidik apa? Setiap hari pulang larut, gak pernah menafkahi keluarga? (marah)

Pak Warseno: Sudah, cukup bu. Jangan bilang kalau aku gak pernah menafkahi keluarga ini, buktinya, Riri bisa sekolah sampai sekarang, dan kalian juga bisa makan. Seharusnya ibu juga berusaha kerja, bisanya cuma mengandalkan suami saja. (m a r a h)

Riri: Bapak ibu, sudah! Aku sudah capek sama kalian. Seharusnya kalian berdua sadar, kalau aku ini sangat membutuhkan kalian, perhatian kalian. Terserah bapak sama ibu mau gimana, Riri mau minggat. (marah besar sambil nangis)

Pak Warseno: Tuh anakmu jadi minggat, coba kalau kamu tadi tidak membentak-bentaknya!

Bu Warseno: Salahkan saja semuanya kepadaku pak! (masuk kamar, sambil menjederkan pintu dengan keras)

ADEGAN 4
Pak RT, yang lewat di depan rumah Riri, langsung kaget karena mendengar pertengkaran yang hebat dan tiba-tiba saja Riri keluar dari rumah sambil menangis dan membawa tas ransel besar. Kemudian, pak RT mendatangi rumah Riri. Para tetangga sekitar juga ikut berkerumun disekitar rumah riri.

Pak RT: Assalamuallaikum. 

Pak Warseno: Ya pak ada apa? (berbicara dengan nada judes)

Pak RT: Boleh kami masuk pak?

Pak Warseno: Baiklah, silahkan masuk! (judes)

Mereka duduk di kursi ruang tamu.

Pak Warseno: Ada apa bapak-bapak dan ibu-ibu datang kemari? Apa kalian merasa terganggu dengan pertengkaran kami tadi? Kalau iya, besok saya akan segera pindah.

Pak RT: Bukan begitu pak, anda jangan berpikir seperti itu. Kami kesini mempunyai niat yang baik, bukan untuk mengusir keluarga bapak.

*hening sesaat*

Pak RT: Apa bapak dan ibu tidak bisa menasehati nak Riri dengan hati-hati? Mungkin, dia menjadi nakal karena kurang perhatian bapak dan ibu?

Pak Warseno: Seharusnya itu tugas istri saya! Saya setiap hari sudah pulang larut untuk mencari nafkah. Masak dia,  tinggal menasehati dan memberi perhatian dengan baik saja tidak bisa? (nada marah)

Pak RT: Bukan begitu pak caranya, seharusnya bapak dan ibu bersama-sama menasehati, memberi perhatian dan memberikan kasih sayang! Kalau bapak dan ibu begitu mungkin Riri, tidak merasa tidak punya keluarga, dan dia juga tidak menjadi nakal seperti sekarang.

Pak Warseno: Baiklah nanti saya akan coba berbicara baik-baik dengan istri saya dan Riri. (sudah sedikit tenang)

Pak RT: Untuk semuanya saja, kalau mendidik anak itu jangan cuma salah satu, tapi harus bersama-sama. Dan kalau ada masalah seharusnya dibicarakan dengan baik-baik, jangan dengan emosi, kalau dengan emosi bisa mengundang perhatian tetangga yang lain.

Tetangga: Iya pak.

Pak Warseno: Baiklah pak, terima kasih sudah mengingatkan saya.

Pak RT: Baiklah kami mau pamit dulu. Semoga masalahnya cepat selesai! Assalamuallaikum.

Pak Warseno: Walaikumsalam.

ADEGAN 5
Para tetangga dan pak RT serta para remaja, ikut membantu keluarga pak Warseno mencari Riri yang minggat.

Pak RT: Anak-anak, apakah kalian tahu dimana biasanya Riri main?

Dewazci: Dulu saya pernah melihatnya di dekat hotel Raya Jaya pak, kan kalau tidak salah disana ada kos-kosan, mungkin Riri menginap di kos-kosan temannya.

Pak RT: Baiklah, kalian cari mereka kesana ya. Kami para orang tua menunggu di rumah pak Warseno.

Remasti: Baiklah pak.

ADEGAN 6
Di suatu tempat, Riri sedang curhat dengan Kina.

Riri: Kin, aku mau curhat nih, aku capek dengan hidupku seperti ini. Setiap hari bapak sama ibu bertengkar terus. Aku ingin merubah hidupku yang awut-awutan ini.

Kina: Sabar Ri, mungkin kamu bisa mulai dengan merubah sikapmu yang kurang baik itu.

Riri: Aku maunya juga gitu, tapi aku bingung caranya gimana?

Kina: Ya mungkin kamu harus meninggalkan teman-temanmu yang nakal-nakal itu. Mulailah mendekat ke Allah, jauhi semua hal yang dapat menjerumuskanmu. Minta maaflah kepada kedua orang tuamu dan buatlah mereka bangga denganmu! Pasti mereka nanti gak bakal beran (menengok ke Riri)…. Astagfirullah, ternyata Riri udah menghilang. Mungkin dia mau pulang ke rumah.

Mendengar nasehat Kina, hati Riri langsung ingat kepada orang tuanya, yang pastinya mereka sedang mencarinya. Riri merasa, dia harus segera berubah, agar orang tuanya bisa bangga kepadanya dan dia tidak membuat malu keluarga lagi. Riri langsung mencegat angkot, lalu pulang ke rumah.
***

Sampai di rumah.

Riri: Assalamuallaikum. Bapak.. ibu.. riri pulang. (sambil menangis)

Bu Warseno: Alhamdulillah nak, akhirnya kamu pulang. Maafkan ibu, karena telah memarahimu. Maaf juga kalau kami sering bertengkar. (sambil memeluk Riri)

Pak Warseno: Bapak juga minta maaf nak, karena jarang member perhatian kepadamu.

Riri: iya ibu, iya bapak.

Pak Warseno dan bu Warseno memeluk anak semata wayangnya itu. Dan mereka mencoba menata lagi rumah tangga mereka. Para tetangga yang melihat perilaku Riri sekarang menjadi baik ikut senang. Bu Warseno jadi lebih ramah kepada para tetangga.

#Semoga bermanfaat. maaf kalau kurang rapi. :)

1 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar :)
Besok dateng lagi ya ^_^